Sabtu, 12 Mei 2012

AYO TIRU CARA BELAJAR SISWA DI JEPANG


SETIAP warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan memiliki anak yang sudah bersekolah, tentunya pernah berkunjung ke sekolah tersebut untuk berbagai keperluan. Setiap anak sudah ditentukan tempatnya bersekolah berdasarkan alamat tinggalnya di suatu distrik, sehingga setiap orang tua tidak boleh menyekolahkan anaknya ke distrik yang lain. 
  
Fasilitas yang dimiliki tiap sekolah dasar (shougakkou) di Jepang hampir sama walaupun ukuran ruangnya berbeda.  Ruang yang tersedia meliputi ruang kelas, perpustakaan, asosiasi guru dan orang tua (PTA), guru, toilet, gudang, olahraga tertutup (taiikukan), kolam renang dan lapang olah raga terbuka.  

Salah satu sekolah dasar diketahui memiliki luas lapang terbuka 9,130 m2 (lebih luas dari lapang sepakbola) dari total luas sekolah 18,150 m2.  Lapang terbuka ini dimanfaatkan siswa dan guru sekolah untuk pelajaran atletik, sepakbola, softball dan olahraga/permainan lainnya.  Keadaan ini  jauh berbeda dengan kondisi luas sekolah dasar di Indonesia pada umumnya yang tidak memiliki lapang terbuka untuk berolahraga apalagi lapang olahraga tertutupnya. 

Dengan fasilitas dan kualitas guru yang sama di setiap sekolah dasar, maka mutu siswa dapat dikatakan 'sama'. Kurikulum pendidikan sekolah dasar di Jepang dan di Indonesia jauh berbeda.  Hanya pelajaran berhitung/matematika mempunyai bobot yang hampir sama.  

Untuk siswa kelas 1-3, bobot kegiatan olahraga sangat besar, hampir tiap hari anak didik diberikan mata ajaran tersebut. Kegiatan akademiknya berlangsung dari pukul 8 pagi sampai 3 sore dengan diselingi istirahat dan makan siang bersama. Tidak nampak adanya kantin dan jajanan kaki lima dipinggir luar pagar sekolah. 

Kegiatan belajar siswa tidak hanya di dalam ruangan. Secara berkala mereka melakukan kegiatan kunjungan ke tempat bersejarah dan lahan pertanian/perkebunan untuk belajar memetik teh, jeruk, menggali umbi-umbian bahkan belajar menanam padi di sawah. Di lain waktu, siswa secara berkelompok diajarkan cara menumpang kereta (densha) untuk melatih kemandirian. 

Menjelang akhir semester orang tua siswa diundang ke sekolah dan bertemu satu persatu dengan guru kelasnya.  Guru kelas memberikan informasi tentang aktivitas belajar anak kita, meliputi interaksi dengan teman sekelasnya, teman dekatnya, keterampilannya, kemampuan menulis/bahasa dan berhitungnya. 

Pada saat pelajaran keterampilan, seperti membuat layang-layang, orang tua siswa diundang masuk ke kelas dan bersama anak membuatnya untuk kemudian dimainkan bersama-sama di lapang sekolah. 

Peran PTA dalam mendukung kegiatan sekolah sangat besar. Mereka membantu sekolah menggelar perlombaan olahraga antar kelas (undokai) tiap musim panas di lapang sekolah.  Pertunjukkan seni tidak luput ditampilkan oleh seluruh siswa, dan ditonton oleh orang tua yang diundang pihak sekolah. 

Sebelum perlombaan dan pertunjukkan diselenggarakan, siswa berlatih hampir tiga bulan sebelumnya.  Semua aktivitas anak di sekolah dan keterlibatan orang tua di dalamnya memberi kesan tersendiri, terutama bagi warga asing di Jepang, yang mungkin tidak bisa didapatkan saat di negaranya sendiri.  

Berkaca pada pengalaman di atas, untuk pendidikan anak tingkat dasar, seyogyanya kegiatan akademik sekolah dasar jangan hanya difokuskan pada olah pikir saja namun harus diseimbangkan dengan olahraga dan jiwanya.  

Saat ini Departemen Pendidikan Nasional RI memiliki alokasi anggaran pendidikan yang besar.  Kita berharap sektor pendidikan dasar (TK-SD-SMP) akan mendapat alokasi dana terbesar, sehingga setiap sekolah nantinya akan memiliki fasilitas dan kualitas guru yang merata seperti halnya model pendidikan dasar di Jepang.  

Sungguh ironis bila masih kita dengar/baca/lihat bangunan sekolah dasar roboh satu persatu akibat kualitas bangunan yang rendah, walaupun sebenarnya lokasi sekolah tersebut masih berada di wilayah Jawa yang notabene dekat dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan. (*) 

1 komentar: